Nongkrong dan Terhubung Bareng Integrated Circuit-nya Ruru Radio

Nongkrong dan Terhubung Bareng Integrated Circuit-nya Ruru Radio

img
Pemuda pemudi berkumpul di ruang utama sebuah kafe yang sedikit temaram. Tampak semangat menggebu dari salah satu pembicara utama, seolah ia mengajak setiap lapisan pemuda di situ untuk mengangkat sejata melawan Belanda. “Merdeka atau mati!” katanya secara imajiner, demi mendukung paragraf awal yang masih saya reka ini. Tapi tidak ada yang menjawab pekikakan itu, karena kalimat tersebut sama sekali tidak terucap. Itupun bukan acara Sumpah Pemuda, apalagi berbalas pantun ala bujang gadis di Lampung Tengah. Itu adalah Integrated Circuit yang tidak ada hubungannya langsung dengan dunia otomotif. Kalau berpikir dua pembicara tersebut, Om Leo dan Mas Gilang, adalah pengamat Moto GP atau maniak tamiya, kalian salah! Karena mereka adalah dua orang dari Ruru Radio yang ditugaskan untuk mendengar dan berbagi cerita dengan para penggiat komunitas di Bandarlampung.
 

Menurut rilisan yang beredar di Instagram, Integrated Circuit adalah rangkaian program dari Ruru Radio yang diaplikasikan sebuah forum yang memfasilitasi para peserta dari tiap kota untuk berbagi pengalaman, presentasi (karya maupun program/kegiatan), dan pencarian solusi-solusi yang terkait skena kota. Pantesan aja, malam ini (28/5), dari seniman, sampai musisi/band (yang konon terpecah jadi beberapa kubu wkwk). Eh, nggak musisi doang deng, literasi juga, visual artist juga, tapi kayaknya semua deh, pada ngobrolin tentang pergerakan mereka masing-masing berikut masalah yang terjadi. Pada akhirnya acara ini menjelaskan satu hal, KOMUNIKASI. Sebenarnya setiap pelaku atau komunitas di Lampung ini kurang ngobrol satu sama lain, atau bahkan kurang kenal. Hal tersebut yang ngebuat gap ada di antaranya. Itu sih, yang saya tangkap dari pemaparan Om Leo yang mempunyai misi mengentaskan kemiskinan bagi anak muda walau Mas Gilang menimpali bahwa mereka juga miskin. Orang miskin menolong orang miskin. Ya!

Menurut Om Leo, Bandar Lampung, berikut Lampung tidak memiliki masalah yang sangat urgen dan krusial untuk diselesaikan dari segi SDM atau tempat yang mau mendukung setiap kegiatan komunitas. Setiap komunitas masih bisa berkarya, masih bisa menciptakan karya dan memamerkan hingga menjualnya. Tradisi seperti itu sudah berjalan terlepas masalah-masalah teknis yang dramatik. “Ah, udah! Stop drama-dramaan. Ini 2018!” kata Om Pisces, eh, Om Leo setelah mendengar curhatan dari beberapa perwakilan komunitas.

Ngobrol aja! Itu menjadi kata simple yang menggemaskan kalau pada akhirnya kita semua tahu, semua masalah art work band lo, kafer buku lo, atau video klip band lo, semuanya bisa kok di obrolin dan dikolektifkan agar komunitas masih bisa jalan dan sebuah skena terjaga.

“Karena pada dasarnya, sebuah kota akan mati jika skena anak mudanya juga mati.” omle.

 

Lampung jauh-jauh deh dari hal mengerikan itu. Setiap anak mudanya harus mampu berkarya dengan apa yang dia bisa. Berjuang walau secara indipenden, kolaborasi dengan teman-teman, dan jaga hubungan baik dengan semuanya.

Integrated Circuit juga ngebahas tentang keberlangsungan hidup para pelaku skena di Bandarlampung. Kenyataannya saat ini, beberapa kegiatan anak muda “belum” bisa menunjang keberlangsungan hidup. Karena itu passion mereka harus kalah dengan tuntutan pragmatis dimana mereka juga harus kerja formal untuk keberlangsungan passionnya. Om Leo dan Mas Gilang merekam semuanya dan memberi saran bertajuk “cara si miskin” agar komunitas berani mengajukan proposal ke company atau pemerintah kota guna mendukung gigs, pameran, pembuatan film, workshop penulisan dan lain sebagainya demi mendukung keberlangsungan hidup artis dan skena.

“Kalau masih mental juga, sharing sama Ruru Radio! Pasti akan kita bantu!” kata Om Leo dengan bergelora.

Setelah mendengar sharing dari para perwakilan komunitas di kota tercinta ini dan beberapa kota sebelumnya yaitu; Medan, Padang dan Palembang. Tim dari Ruru Radio akan mempresentasikan pada sebuah forum besar Integerated Circuit berskala nasional yang berlangsung pada akhir bulan Juli di Jakarta. Forum besar itu pun akan mempertemukan para pelaku divisi terpilih dari masing-masing kota. Dengan saling berbagi dan melakukan presentasi karya yang dirangkum dalam lokakarya, penampilan musisi atau band, pameran, diskusi dokumentasi kegiatan penulisan dan lain-lain. Dari sini kita tahu, Ruru akan membentuk circle besar yang mengintegrasikan para pelaku skena di tiap kota menjadi sebuah jejaring yang keren dan disiplin.

Selanjutnya yang lebih keren, nih, ada program beasiswa dari GUDSKUL –Jakarta ( Sekolah yang dikelola oleh Yayasan Ruang Usaha Kreatif) akan diberikan melalui seleksi peserta yang terpilih dari forum Integrated Circuit di beberapa kota di Indonesia.

War byasa Ruru Radio ini emang. Semoga kedepannya setiap karya dari anak muda di Indonesia bisa menjadi legacy terbaik bagi generasi-generasi selanjutnya.

 

Komentar

Leave A Comment

Posts from Galih Aditya