Menjaga Sebuah Harapan Agar Terus Ada.

Menjaga Sebuah Harapan Agar Terus Ada.

img
Anak adalah generasi cerminan 20 tahun mendatang sebuah bangsa. Ketika ada sebuah kalimat klasik berbunyi “ Anak adalah generasi masa depan bangsa” itu memang benar adanya. Waktu mau tidak mau akan mengalihkan tampuk tanggung jawab kepada tangan-tangan mereka, agar bangsa ini menjadi lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya. Pada intinya, semua ini adalah tantangan. Lalu pertanyaannya, siapkah mereka? Maka dari itu, tugas kita kini adalah mempersiapkan.  Regenarasi harus berjalan, sekolah-sekolah harus terus berdiri, workshop-workshop harus terus dilakukan demi pengembangan minat dan bakat anak-anak tersebut. Tetapi sampai di sini? Sudahkah setiap anak mendapat akses menuju semua itu?
Demi menjawab semuanya, mari kita menuju sebuah daerah di pesisir Bandar Lampung, di sebuah desa nelayan dalam area lingkungan 1 Panjang Selatan, pada Desa Rawa Laut dan Teluk Harapan. Keindahan dua nama desa tersebut berbanding terbalik dengan realita sosial yang kami temukan. Kedua desa tersebut bersebelahan langsung dengan area lokalisasi di kota ini, dampak dari pesatnya urbanisasi –mata pisau tajam kehidupan urban menghujam nasib para pelaku lokalisasi sehingga harus terdampar pada zona merah di kota ini. Lokalisasi tersebut rupanya produkif menghasilkan anak-anak biologis dari para tuna susila, hingga kini, anak-anak hasil lokalisasi itu diasuh oleh sebanyak 30 kepala keluarga di kedua desa tersebut. Ibu-ibu biologis mereka lebih memilih menitipkan anak mereka ke keluarga nelayan ketimbang kepada panti asuhan, alasannya tentu sebuah romansa bernama cinta. Dengan diasuh oleh keluarga nelayan, selain menempatkan anak mereka pada lingkungan yang sedikit lebih baik, mereka pun bisa lebih sering menengok anak mereka, ketimbang di panti asuhan –alasan lainnya, jika di panti,ada kemungkinan anak mereka akan diadopsi oleh pihak lain sehingga mereka akan sulit untuk bertemu. Ketika semua itu terjadi dan tampaknya akan terlihat baik-baik saja bagi kedua belah pihak (Ibu bioligis dan keluarga nelayan) tapi di sini, keluarga nelayan harus menerima kenyataan bahwa ada beberapa ibu biologis dari anak yang mereka asuh itu pergi begitu saja.

Masalah baru terjadi, tentang ekonomi. Semua keluarga nelayan yang mengasuh anak-anak asuh tersebut bukanlah keluarga yang berada. Mata pencaharian mereka sebagai nelayan membuat penghasilan mereka tidak menentu. Terlebih saat musim badai saat ini, berbulan-bulan nelayan tidak melaut dan beralih profesi menjadi buruh atau mencari pekerjaan lain yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari, selain itu, mereka harus memutar otak untuk biaya sekolah anak-anak mereka  (termasuk anak asuh). Bahkan ada anak asuh yang belum sekolah karena orang tua asuh yang merupakan janda, belum mampu membiayai anak tersebut untuk bersekolah.

Selain ekonomi, masalah emosional pun menjadi tendensi penting dari realita ini. Karena anak-anak asuh itu sudah menetap lama bersama nelayan sejak berusia bulanan, hampir semua dari mereka belum tahu tentang ibu kandungnya. Beberapa yang sudah tahu, tidak mau ikut dengan ibu kandungnya karena kedekatan emosionalnya lebih besar kepada keluarga nelayan tersebut. Ada sebuah hubungan yang terputus di sini, antara anak dan ibu kandung, adakah yang lebih buruk dari itu dan siapa yang harus disalahkan?

Karena itu, kami akan membuat sebuah film dokumenter untuk membuka mata masyarakat luas juga sebagai media komunikasi antara warga kedua desa tersebut dan pemerintah. Tidak hanya Bandar Lampung, tapi semua daerah di Indonesia bahwa fakta di atas hanya sample dari fenomena sosial yang cukup memprihatinkan di negeri ini. Banyak desa-desa lain yang mengalami kejadian serupa dan tampaknya luput dari perhatian pemerintah. Tapi biarlah, pemerintah adalah bagian masyarakat dan kita harus membantu pemerintah dengan cara yang kita bisa. Film dokumenter yang disutradarai oleh Galih Aditya ini berjudul Harapan Kecil, bertujuan untuk menggalang donasi demi menjaga harapan anak-anak tersebut agar tetap mendapat akses pendidikan yang layak. Di antaranya; membantu masyarakat setempat dan anak-anak untuk membangun ekonomi kreatif sesuai potensi wilayah mereka dengan mengadakan workshop yang rutin dan juga memdirikan perpustakaan desa di lingkungan tersebut. Itulah keinginan masyarakat dari kedua desa tersebut setelah kami melakukan survey untuk film ini. Film Harapan Kecil akan mulai shooting tanggal 26 Maret 2018 dan dijadwalkan selesai pada awal Mei 2018.

“Apa yang kami lakukan ini hanya sebuah hal kecil, untuk harapan kecil bagi masa depan yang besar. Kami butuh Anda untuk berpartisipasi  demi bangsa ini, di masa mendatang”

Komentar

Leave A Comment

Posts from Alletta Rossa Ernitta