Ketika 22 Pekon di Kecamatan Pagelaran, Pringsewu Mendapat Predikat Open Defecation Free! Hip Horee!!

Ketika 22 Pekon di Kecamatan Pagelaran, Pringsewu Mendapat Predikat Open Defecation Free! Hip Horee!!

Memulai hidup sehat tidak melulu dengan gym, lari keliling kompleks dengan sepatu Saucony Guide 7, atau bermain golf besama caddy golf gemes, karena semua itu merupakan faktor kesekian dalam pola hidup sehat. Memulai hidup sehat itu harus kita runut dari akar masalah sebuah penyakit itu bisa hidup, berkembang lalu menyerang kita. Tentunya lingkungan menjadi faktor utama dalam memulai hidup sehat. Lihatlah sekelilingmu, sudahkah kamu memulai kesadaran hidup sehat dengan buang air besar/kecil pada tempatnya atau sudahkah kamu mencuci tangan dengan sabun setelah berkegiatan? Ya, benar! Semua itu sepele, tapi kalau kamu tidak memperhatikan itu, hal yang kamu anggap sepele itu bisa menimbulkan penyakit yang tidak sepele.
 

Penyakit berbasis lingkungan itu memang nggak seserem jantung koroner, strook atau HIV, tapi apa kamu mau terserang penyakit seperti ISPA, Diare, bahkan DBD? Oke, kamu bisa menjaga diri, tapi bagaimana nasib balita-balita di lingkunganmu?

Mari kita sederhanakan mengapa saya menulis bagian di atas! Saya pun termasuk orang yang menganggap bahwasanya mencuci tangan pakai sabun itu sepele, bahkan saya kalau makan sesuatu di jalanan pun mana peduli dan ingat dengan mencuci tangan pakai sabun. Dengan dalih saya memiliki daya tahan tubuh yang kuat, saya mengabaikan semua itu, Alhamdulillah saya sering mules! Lain cuci tangan pakai sabun, lain dengan buang air besar sembarangan. Di awal tahun 90-an, ketika saya masih imut-imut kayak  Suri anaknya Tom Cruise, saya pun pernah buang air besar sembarangan. Itu terjadi ketika saya masih tinggal di salah satu daerah yang sanitasinya dinilai terburuk di Indonesia kala itu, pedalaman Sukabumi Jawa Barat. Hampir semua warga di kampung saya buang air besar di sawah (karena itu jangan heran kalau padi dari daerah kami subur-subur) atau aliran irigasi dan itu berlangsung sangat lama hingga menjelang akhir tahun 90-an, kloset jongkok akhirnya hadir di kampung kami.

Semuanya menjadi sebuah nostalgia ketika pada tanggal 18 Mei lalu saya mendapat kesempatan untuk meliput sebuah Deklarasi Bebas Buang Air Besar Sembarangan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu. Saya tidak menyangka bahwa sebuah acara deklarasi ini akan sebesar ini, dimana pesta rakyat menjadi main course dari sebuah komitmen masyarakat dari 22 pekon Pagelaran yang dinyatakan telah mendapat predikat Open Defecation Free (ODF). Semua ini adalah kerjaan masyarakat 22 pekon yang mendapat predikat ODF, dukungan pemerintah Kabupaten Pringsewu dan ini, nih, otaknya! Yakni sebuah organisasi non-profit bernama SNV (Stiching Nederlandse Vrijwilligers), dengan tagline #JihadSanitasi-nya. Beberapa waktu belakangan ini, rupanya SNV sudah melakukan workshop dan pemberdayaan SDM di kecamatan Pagelaran untuk nantinya membantu proses percepatan Sanitasi yang dicetuskan pemerintah. Hasilnya ya itu tadi, 22 pekon yang awalnya masih buang air besar secara random akhirnya memiliki klosetnya masing-masing. Hmm, apa yang dilakukan SNV merupakan hal sederhana yang menimbulkan efek yang luar biasa bagi kehidupan warga Pagelaran.

Bergabung dangan geng Wartawan (walau secara teknis saya sih bukan wartawan) saya mengikuti konferensi pers di kediaman Bupati terpilih Kabupaten Pringsewu, Bapak Sujadi (Karena Pesta Rakyatnya di lapangan besar dekat rumah beliau). Hadir sebagai narasumber di antaranya Asisten I Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Bapak Zuhairi, Dirjen Kesmas Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Bapak Imran Agus N, perwakilan AKKOPSI (Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Kesehatan) Bapak Yose Rizal, juga Maria dan Ismene dua nyonya cantik dari SNV Belanda. Pada intinya, Bapak Zuhairi mengucapkan terima kasih banyak kepada setiap pihak yang terlibat dalam percepatan sanitasi di Kabupatennya, sementara  Bapak Imran Agus dan Yose Rizal  mengapresiasi usaha Pemkab dan SNV dalam percepatan sanitasi di Kecamatan Pagelaran tersebut. Konferensi Pers berlangsung kurang lebih tiga puluh menit dan rasanya itu sudah cukup untuk menjelaskan kepada semua hal besar apa yang telah terjadi di Kecamatan Pagelaran itu.

Selepas konferensi pers, ada sebuah kejutan yang saya temui di pelataran rumah Bapak Sujadi, dimana sekelompok penari Reog Ponorogo mulai beraksi di hari yang mulai terik khas tropis itu. Diiringi dengan alunan musk gamelan dan penari kuda lumping cilik, tiga penari reog ponorogo (satu barongan dan dua penari topeng) menunjukkan tarian mereka di hadapan perwakilan Pemkab, Kemenkes dan SNV yang baru saja menyelesaikan konferensi persnya. Saya melihat Maria dan Ismene tampak antusias mendapati tarian tradisional tersebut karena tarian itu akan sulit ditemui di Amsterdam yang sedang berduka karena baru saja kalah di Final Liga Eropa melawan Manchaster United. Ah, jujur, sebenarnya saya paling takut dengan tarian-tarian seperti ini karena biasanya penarinya akan kesurupan dan makan beling atau menyerang penonton yang menonton terlalu dekat, tapi hari itu tidak ada adegan seperti itu karena ini hanyalah sebuah pesta rakyat, bukan atraksi, saya pun dengan gagah berani mengambil gambar dari jarak dekat dengan penari Reog yang narsis di depan kamera. Reog pun memandu para rombongan menuju lapangan tempat pesta rakyat di adakan, kami berjalan di belakangan penari Barongan dan di depan penari Barongan tersebut, para kuda luping cilik berjalan membentuk sebuah barisan dan perjalanan menuju lapangan kecamatan Gemar Dipah dimana Deklarasi ODF digelar.

Di lapangan, selain adanya shalawat STBM dari ibu-ibu pengajian setempat dan Deklarasi Bebas Buang Air Besar Sembarangan, ada juga pamera kloset yang dibuat oleh Paguyuban Jamban Sewu, dan salah satu yang menarik perhatian saya ialah adaanya kloset raksasa. Bisa kalian bayangkan, jika ada sebuah kloset yang besar berarti di situ ada………… yang besar juga.  Well, semua itu adalah salah satu pesta rakyat terbaik yang pernah saya temui.

Kloset Duduk Untuk Difabel

Selepas makan siang, Tim SNV mengajak saya untuk melihat mode kloset untuk difabel. Menempuh perjalanan hampir delapan kilometer dari lokasi Deklarasi, saya dibawa ke Desa Candiretno dimana saya bertemu dengan kisah sedih yang lebih sedih dari Kisah Sedih Di Hari Minggu, ya, karena saat itu hari Kamis. Ialah Pak Kadis, seorang Difabel yang hidup sebatang kara di rumah berukuran 3 x 5 meter, tepat di pinggir empang. Bayangkan seganas apa nyamuknya kalau malam dan berapa persen probabilitas Pak Kadis terserang DBD kala siang? Ah, itu terlalu sentimentil untuk dipikirkan. Pria berusia 70 tahun tersebut hanya memiliki satu kaki dan harus hidup sendiri, Penghasilannya sehari-hari ialah dari keahliannya membuat layangan, kursi atau kerajinan apapun yang berbahan dasar bambu. Ia terlihat tabah di usia senjanya dan begitu murah tawa, terdengar berkali-kali kelakar tawanya saat menjawab pertanyaan klise beberapa oknum wartawan,

“Bapak dulu sebelum ada WC buang air besarnya di kali ya, pak?” Tanya wartawan

“Apa?” Pendengaran Pak Kadis memang sudah terganggu.

Wartawan pun mengulang pertanyaannya sampai beberapa kali dan hanya di jawab Pak Kadis dengan, “ya, di situ,” sambil menunjuk arah empang di dekat kami berdiri.

Berbicara soal WC, tim SNV yang terdiri dari masyarakat setempat binaan SNV Indonesia dan Kepala Lingkungan tempat Pak Kadis tinggal, membawa kami ke kamar mandi Pak Kadis untuk melihat kloset duduknya. Jangan bayangkan kloset duduk untuk difabel ini seperti kloset duduk di hotel, namun hanya sebuah kloset jongkok biasa yang di atasnya ditaruh sebuah kursi yang dibolongi (maaf, pada  bagian dimana tinja keluar)  sehingga Pak Kadis tidak kesulitan saat BAB. Setelah hampir setengah jam di kediaman Pak Kadis, saya dan Tim pun kembali ke lapangan untuk pagelaran Pesta Rakyat. Sehat selalu ya, Pak Kadis J

Kembali Ke Pesta Rakyat Sampai Wayang Kulit Semalam Suntuk

Bangga sekaligus terharu ketika siang itu, saat saya kembali ke lapangan, hujan turun cukup deras namun anak-anak dari beberapa SD di 22 pekon masih semangat menari dalam lomba menari kuda lumping, kemudian dilanjutkan dengan lomba drumband ibu-ibu dari 22 pekon yang sama. Benar-benar sebuah pesta rakyat yang begitu patut di apresiasikan. Well done! Mr Bambang Pujiatmoko, selaku koordinator SNV dan timnya yang bekerja ekstra keras dengan dedikasinya yang tinggi sehingga pesta ini begitu luar biasa, nggak lupa apresiasi buat pemerintah setempat dan warga Pagelaran tentunya yang menjadi elemen penting acara, hingga begitu meriah.

Di malam harinya, pesta masih berlanjut dengan pementasan Wayang Kulit yang begitu megah. Dua dalang (Bambang Iskandar dan R Warsi Paripurno) berkolaborasi menampilkan pertunjukkan berkelas dengan cerita yang mencatut pesan-pesan tentang lima pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) Pertunjukkan Wayang Kulit semalam suntuk ini menjadi penutup rangkaian acara Deklarasi Bebas Buang Air Besar Sembarangan di Kecamatan Pagelaran, dan khususnya bagi saya rangkaian acara hari itu mungkin lebih berkesan dari jatuh cinta pertama saya dahulu. Salute Pagelaran dan Forza SNV!

Komentar

img

yiprwwup

Komentar

Hello! viagra online , generic cialis , generic cialis , cialis cheap , viagra online ,

img

pte summarize written text sample with answers

Komentar

ok welcome to you, get free software! pte summarize written text sample with answers http://www.solidob.com/list/pte-summarize-written-text-sample-with-answers.htm

img

fonts online

Komentar

it's good article haha!download free now fonts online http://www.solidob.com/list/fonts-online.htm

Leave A Comment

Posts from Galih Aditya