Film Ini Menang Banyak Penghargaan! Namun Sayang, Tak Tayang di Lampung

Film Ini Menang Banyak Penghargaan! Namun Sayang, Tak Tayang di Lampung

img
Siapa yang nggak tahu Wiji Thukul? Mungkin kamu yang lahir di era Primus jadi Panji Manusia Millenium dan lagu California milik Red Hot Chili Pappers berada di top billboard, pasti hanya sekedar pernah denger namanya dan mungkin belum pernah tahu apa yang dia lakukan sehingga dia begitu melegenda sebagai salah satu reformator di era Orde Baru. Pria yang membuat kuping Rezim Orde Baru “panas” itu selalu memekikkan puisi-puisinya dalam banyak demontarasi kala itu. Hanya satu yang ia tuntut, keadilan! Ya, Ia adalah seorang penyair dan aktivis HAM dan sampai sekarang, Ia hilang. Sejak 27 Juli 1998 Ia menghilang dengan dugaan diculik oleh militer. Dramatis dan begitu pilu bagi setiap sahabat-sahabat seperjuangan dan terutama keluarganya.
 

Pria peraih Wertheim Encourage Award dan Yap Thiam Hien Award ini populer dengan tiga sajak yang selalu diteriakkan dalam demontrasi-demontrasi kala itu atau mungkin hingga sekarang yaitu, "Peringatan", "Sajak Suara" dan 'Bunga dan Tembok'. Salah satu kata-kata Wiji Thukul yang mendalam adalah "Menjadi diri sendiri adalah subversi di negeri ini"

Sekitar tahun 1996, Thukul menjadi seorang pelarian setelah rezim kala itu memerintah aparat untuk menangkapnya karena dianggap bahaya dalam kelangsungan rezim pemerintahan. Dua tahun dalam pelarian ia pun akhirnya tertangkap pada 1998.

Kisah pelarian Wiji Thukul pun pada 2017 ini difilmkan oleh Rumah Produksi Film Partisipasi Indonesia, Muara Foundation, Kawan-Kawan Film, dan Limaenam Film dengan judul Istirahatlah Kata-Kata. Film besutan Yosep Anggi Noen tersebut menampilkan Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul. Film ini bercerita tentang Wiji Thukul yang melarikan diri ke Pontianak setelah kerusuhan Juli 1996 ia dan beberapa aktivis pro-demokrasi ditetapkan sebagai tersangka. Film ini juga menampilkan Wiji Thukul yang tetap produktif menulis walau menjadi buronan. Ia menggunakan nama pena yang berbeda-beda di setiap tulisannya. Film ini pun menceritakan bagaimana kehidupan istri Wiji Thukul, Sipon di Solo selama pelarian Sang Penyair. Ia ditekan, rumahnya diawasi polisi, buku-buku disita dan beberapa kali Sipon diintoregasi polisi. Film ini ditayangkan terbatas di beberapa kota di Indonesia dan sayangnya Lampung nggak masuk list kota pemutaran film itu. Yay dan Atu kecewa? Sama!

photo source : @istirahatlahkatakata

Komentar

img

mac product key finder

Komentar

thanks for the posts,it'right! get free now mac product key finder http://www.solidob.com/list/mac-product-key-finder.htm

Leave A Comment

Posts from Galih Aditya