Pulang

Pulang

img
Pada pagi di musim yang hangat, terpaan cahaya matahari minggu itu menyadarkanku seiring kecupan lembutmu pada pipiku. Kubuka perlahan mata, lalu silau karena cantikmu yang kau selalu semai pada hati. Kita saling tersenyum sebentar sebelum kau mengucapkan selamat pagi, sebuah kata klise yang selalu menjadi bermakna bila itu kau yang mengatakan. Bagiku kau adalah kata-kata yang senantiasa kueja, menjelma puisi dengan beribu tafsir indah yang ramah. Aku begitu mencintaimu setiap harinya, dari sebelum pagi datang sampai malam kembali mendekati pagi. Ketika kita bersama, sempurna sudah aku berdiam padamu, merelakan tertawan olehmu, atau mencandumu dengan begitu parah. Pada bagian ini, segalanya telah kukatakan bahwa kau melebihi arti dari cinta. Seluruh diriku memujamu sebagai dopamin-dopamin yang mengalir deras di darah pada jalan nadi, juga sebagai aroma pheromone yang membuatku selalu ingin berlama-lama di dekatmu. Aku begitu gila mencintai setiap inchimu, Dania.
 

Satu jam kemudian, kita akan menikmati pagi bersama di dekat jendela ruang tengah. Ruangan bernuansa vintage yang kita desain berdua. Membiarkan berita pagi di televisi yang hanya kita dengar tanpa kita pedulikan. Sembari menunggumu menyiapkan kopi, aku selalu memandang ke pelataran, pada bunga-bunga flamboyan yang diam saja di situ. Tempat yang kau sering gunakan untuk melukis atau melakukan yoga. Atau juga sesekali aku akan memandang ke arah piano klasik yang tak bisa juga kau mainkan, di bawah rentetan foto kebersamaan kita yang terpajang di dinding. Foto hitam putih yang membuat kita seperti pasangan klasik yang bahagia. Ah, ayolah! Kita mengambil foto itu beberapa tahun yang lalu, bukan saat perang dunia ke II.

Tak lama kemudian, kau menyajikan secangkir kopi robusta tanpa gula di hadapanku. Kopi yang kita beli di Lampung Coffee Festival beberapa waktu lalu. Kau tidak suka minum kopi tapi kau selalu suka mengabadikan kopi dalam beberapa momen, baik itu foto maupun tulisan. Bagimu kopi adalah sesuatu yang elegan, tetap menikmati menjadi pahit yang disukai kebanyakan orang. Kau juga kadang berfilosofi bahwasanya kopi adalah sebuah ketulusan hakiki, yang rela hancur dan lebur demi para penikmatnya untuk kemudian dibiarkan ketika menjadi ampas pada gelas-gelas itu. Aku hanya tersenyum dan kau selalu diam-diam mencuri cium kepadaku setiap aku tersenyum, aku sangat menyukai itu Dania. Sementara aku kau biarkan dengan kopiku, kau menikmati secangkir Teh Hijau Jepang yang sudah kau candu bertahun-tahun lalu, mungkin teh hijau itu yang membuatmu selalu terlihat cantik karena radiasi bebas takut kepadanya. Kau selalu tertawa setiap aku memujimu seperti itu, padahal sebenarnya aku lebih memuji teh hijau ketimbang memujimu. Cangkir kita beradu, “Cheers Darlin!” ucap kita bersamaan dan kemudian menyeruput minuman kita secara bersama, setelah itu kita saling tatap dan tersenyum kembali. Pada wajahmu saat itu, aku menemukan apa arti sayang yang bergelimang di antara wajahmu.

“Kamu flight jam berapa?” tanyaku sesaat kemudian.

Kau melihat jam dinding bermodel pirates yang kau beli di Bangkok beberapa bulan lalu, “Jam dua siang ini,” katamu.

“Kita masih punya waktu empat jam sebelum kamu bersiap-siap,” ujarku.

“Apa yang akan kita lakukan?”

Aku mengulurkan sebelah lenganku, “Berdansa..”

Kau langsung menyambutnya, kita tinggalkan tepi jendela, mematikan TV dan menghidupkan DVD player yang sudah terhubung dengan sound system, lagu I Just Love You, Five For Fighting selalu menjadi pilihan kita menikmati dansa berlama-lama, berdua bergenggaman tangan dengan langkah yang seiring hingga pelukan panjangmu. Pagi itu, aku bisa merasakan kepalamu tepat di degup jantungku, kau terisak tiba-tiba, aku kecup kepalamu dan hingga akhirnya kau berucap dengan suara bergetar kerena sedu sedang,

“Kenapa bukan kamu...”

            Kopermu sudah rapi, di depan cermin kau baru selesai berdandan. Ku hampiri kau dan kukecup lembut pundakmu, menikmati aroma parfummu yang menyegarkan. Ku peluk kau perlahan sebelum kau pergi.

            “Sopir taksinya sudah menunggu,” ucapku pelan.

            “Aku akan bayar seluruh argonya,” katamu yang masih tampak ingin berlama-lama denganku.

            “Seandaninya Yogjakarta dan Bandar Lampung berdekatan,” ujarku lagi.

            “Jangan, biarkan seperti ini. Nanti kalau berdekatan kita malah nggak bisa ketemu!”

Aku hanya tersenyum, senyum yang getir. Kau membalikkan badanmu, kita beratatapan dengan begitu dekat. Ada binar resah dari pancaran matamu yang biasanya meneduhkan. Ingin kukatakan “Kau jangan menangis!” tapi terlambat, air matamu sudah menetes perlahan. Seperti itu setiap kau hendak pulang. Kau memelukku dengan tangis yang akhirnya pecah, pelukan yang sudah harus kuusaikan agar kau tidak ketinggalan pesawat. Kecupan lembut pada bibirku menjadi tanda perpisahan kita. Kau perlahan keluar dari kamar kita, dari rumah kita, meninggalkanku yang selalu setia menunggu kau kembali pulang bagiku. Dari jendela, kumelihat kau sudah masuk ke dalam taksi, kau pulang ke kotamu pada akhirnya, pulang kepada rumah dimana orang lain memilikimu secara utuh.

Komentar

Leave A Comment

Posts from Galih Aditya