King Of Krakatoa!

King Of Krakatoa!

Krakatau selalu identik dengan peristiwa ledakan dan tsunami. Hingga banyak turis-turis lokal dan para penjelajah seperti memiliki kebutuhan untuk menjadikan gunung api tersebut sebagai obyek wisata di Bumi Lampung. Sebaliknya, menurut turis intelektual yang "konon" banyak berasal dari luar negeri, gunung elegan yang saat ini masih berdiri kokoh di Selat Sunda itu, sungguh menarik untuk dijadikan bahan penelitian.
 

***

Nah, Yay, Atu, pada Sabtu tanggal 29 oktober 2016 lalu, Padmarini yang merupakan jaringan perempuan Lampung yang memiliki kepedulian dan bergerak pada isu gender, lingkungan, sosial, pendidikan, seni dan budaya, berkolaborasi dengan Indonesia Nature Film Society (INFIS) dan Mongabay Indonesia, mengadakan Screening Film Dokumenter King Of Krakatoa di Aula Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.

Acara yang juga menyisipkan konten diskusi ini, sangat ditunggu-tunggu anak muda Lampung yang haus informasi ilmiah nan gress yang bisa menambah pengetahuan. Ditambah hiburan berbentuk musik puisi yang digagas salah satu pengide Lampungnese.com (he he he) yaitu Galih Aditya dan Kadhafi menambah keseruan acara. Gak heran, di hari pemutaran film dan diskusi itu, Aula Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dipadati mahasiswa dan beberapa anak muda yang penasaran apa isi film The King Of Krakatoa

Film dokumenter ini menyuguhkan banyak informasi penting tentang Krakatau, yang tentunya langsung dari penelitinya, Prof. Dr. Tukirin. Bersama INFIS dan Mongabay Indonesia, film dokumenter dengan pendekatan 'First Person' yang menceritakan perjalanan beliau dalam menjelajah dan meneliti Krakatau.

Beliau mempunyai catatan rinci tentang perkembangan tanaman di kawasan Krakatau dari tahun ke tahun dan telah menulis lebih dari 50 paper ilmiah tentang suksesi ekologi di Krakatau. Suksesi adalah perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Singkatnya, Prof. Tukirin telah melakukan penelitian yang mencakup kemunculan kehidupan baru, khususnya tanaman, di wilayah Krakatau sejak 1981 sampai saat ini. Informasi itulah yang menjadi topik essential di film dokumenter King Of Krakatoa.

Ada beberapa poin penting yang perlu diketahui bagi kita anak muda Lampung, baik dari segi isi film ataupun hasil diskusi bersama Prof. Dr. Tukirin (LIPI), Teguh Ismail (Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Lampung, BKSDA Bengkulu), Rahmadi Rahmad (Editor Mongabay Indonesia), dan Faizal Abdul Aziz (INFIS). Simak ya! 

Krakatau bukan hanya sebagai destinasi hura-hura atau pariwisata 

Pada saat diskusi, ada satu peserta diskusi yang memberikan kesan dan juga pertanyaan sehubungan dengan potensi Krakatau yang elok dijadikan objek wisata beserta kebijakan yang menguntungkan bagi para travel agency atau biro perjalanan yang mengusungnya. Beberapa argumen begitu sangat meyakinkan seperti dibutuhkannya partisipasi berbagai pihak seperti media, khalayak dan juga pemerintahan yang tujuannya memancing turis lokal dan internasional untuk berkunjung ke bumi Lampung. Nyatanya, tidak demikian menurut fakta yang diberikan para peniliti aktifitas Krakatau, termasuk Prof. Tukirin. Letusan dan bebatuan yang jatuh dari aktifitas Anak Krakatau tidak dapat diprediksi. Bahkan, reruntuhan itu sampai ke pantai. Tidak ada prediksi pasti yang bisa secara absolut memastikan situasi aman di setiap harinya. Itu sangat membahayakan jiwa para turis yang berwisata bila diperbolehkan pengunjung untuk sampai melakukan pendakian atau sekedar memasuki kawasan Krakatau.

Lahirnya peneliti-peneliti muda yang concern dengan perkembangan Krakatau

Dapat dikatakan bahwa alasan dibuatnya film dokumenter tentang Krakatau yang berisi tentang proses suksesi ekologi di Krakatau hingga restorasi hutan yang rusak dan tahapan-tahapan yang yang harus dilewati untuk membangun ekosistem hutan, merupakan klimaks dari minimnya ketertarikan orang Indonesia atau peneliti muda untuk menjadikan Krakatau sebagai obyek penelitian. Keresahan yang dirasakan oleh Prof. Tukirin, teman-teman INFIS dan Mongabay Indonesia tercurahkan seketika ketika sesi diskusi dimulai. Bukti bahwasanya Prof. Tukirin, satu-satunya ahli suksesi ekologi Indonesia, membeberkan fakta bahwa seantero peneliti dunia sangat mendambakan bisa menelitia Krakatau, hanya kenapa orang Indonesia atau orang lampung sendiri hanya puas memamerkan foto Krakatau di akun sosial medianya. Miris sekali.

Kolaborasi apik film dan Penelitian Ilmiah

Jika, Yay dan Atu menonton filmnya, pasti akan merinding ketika di scene awal melihat betapa indahnya alam raya kita. Meski berisi informasi ilmiah dan dipenuhi kata-kata yang bikin kita cari definisinya di Google, tetep aja kita bisa nikmatin sampai ke ending. Wujud kolaborasi apik disini terlihat ketika informasi yang seharusnya bikin ngantuk menjadi tampak berbeda ketika disuguhkannya lewat score yang oke, tone film yang memanjakan mata dan tatanan cerita yang tidak menjemukan. 

Seperti melihat secerca harapan di masa depan, bahwa belajar tentu bisa sangat mengasyikkan. Tak ketinggalan, energi dan semangat yang dihasilkan diharapkan menginspirasi anak muda Lampung sendiri sebagaimana teman-teman jaringan perempuan Lampung, Padmarini yang telah membuktikan dengan suksesnya acara screening dan diskusi film King Of Krakatoa.  laugh

Ohiya, tentu akan kita tunggu durasi penuhnya film dokumenter ini. Karena tentu informasi tersebut akan lebih baik jika diketahui khalayak ramai. Hingga pesan bisa tersebar luas dan kita bisa sama-sama mengambil manfaatnya. Maju terus karya anak Indonesia!  cool

img

Virdyas Eka

Post Author

Writer who sings [. . .] Continue Reading

Komentar

Leave A Comment

Posts from Virdyas Eka