Beginilah Jamuan Tradisional Orang Lampung Terhadap Tamu Yang Datang

Beginilah Jamuan Tradisional Orang Lampung Terhadap Tamu Yang Datang

img
Kalau kamu berkunjung ke rumah kenalanmu di daerah Tulang Bawang, Kota Bumi, Kota Agung atau Lampung Barat, kamu akan mendapat sebuah jamuan khas yang nggak akan kamu dapat di daerah-daerah lain di Indonesia. Kalau biasanya tuan rumah mengajak tamunya makan dengan menu dan table manner biasa, di daerah Lampung tradisional, kamu akan disuguhkan sebuah menu khas Lampung yang akan selalu kamu ingat kalau kamu meninggalkan bumi Radin Intan. 
 

Namanya Seruit. Dimulai dengan Ikan seperti baung, belide, atau layis akan dicampur dengan sambal olahan dari durian atau mangga. Ikan yang sudah disediakan  dibumbui dengan bumbu rempah-rempah berupa bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah itu, ikan pun dibakar selama sepuluh menit. Saat sudah setengah matang, ikan diolesi dengan kecap manis dan campuran bumbu dari bawang putih, garam, dan ketumbar. 

Setelah berproses dengan ikan, kita mulai dengan sambalnya, masukkan cabai merah, cabai rawit, garam, micin, rampai, dan terasi bakar. Bahan sambal ini lalu ditumbuk hingga halus kemudian dicampur dengan lalapan dan tempoyak, kemudian di sini uniknya. Tidak ada sendok atau spatula untuk mengaduk bahan-bahan tadi menjadi satu, pembuat seruit menggunakan tangan kosong untuk mengaduknya, diremas-remas hingga bikin kita gemas (tapi dengan tangan yang bersih dan steril, lho).

Namanya tradisi cuwak mengan nyeruwit

Adalah tradisi penyambutan tuan rumah terhadap tamu, di sini kamu akan menemui table manner yang sangat sederhana. Nggak ada garpu atau pisau, nggak ada juga wine sebagai dessert. Yang ada adalah sebuah wadah besar yang digunakan untuk menghidangkan seruit,  ada juga Talam Dolang, yakni tempat membawa nasi, lauk, dan  peralatan makan.

Piring yang digunakan untuk makan, disebut Pighing. Jenisnya tak hanya satu. Ada piring penyeruwit sebagai wadah olahan seruwit, adapula Pisin atau piring untuk sambal. Bentuknya tentu berbeda-beda. Ada pula Tenong yang merupakan tempat menyimpan nasi, Bakei merupakan tempat sayur, sedangkan Pengjung adalah tempat buah. ada juga namanya Aghew untuk mengambil sup atau kuah, lalu Cetung, adalah sendok pengambil nasi.

Nah, Yay, Atu, seru, kan, kearifan lokal Lampung itu? Pastinya hal-hal etnik kayak gini, nih, yang akan bikin kamu kangen sama daerah-daerah yang kamu kunjungi kalau kamu hobinya backpackeran keliling Indonesia, dan beginilah Lampung menjamu tamu yang datang. Yuk, main dan nyuit di Lampung.

Komentar

Leave A Comment

Posts from Galih Aditya