Tukang Serobot Antrean? oh jelas itu bukan aku!

Tukang Serobot Antrean? oh jelas itu bukan aku!

img
Antre bisa dikatakan merupakan budaya juga di kehidupan sehari hari. Contonya melakukan transaksi di ATM, bayaran SPP, membayar belanjaan di kasir supermarket, semua wajib antre. Termasuk mau ngegebet calon pacar ya.. antre guys, jangan sampai kamu di anggap sebagai tukang tikung hehe. Sakit men..sakitnya tuh disini *ngelus dada*. Tapi kadang yang bikin nyebelin, sering nih kita melihat orang lain tiba tiba-asik main serobot antrean dengan wajah berbinar-binar tanpa rasa berdosa. Hmm betul-betul membuat sebal *rolling eyes*.
Sebetulnya, gimana ya seharusnya kita menyikapi masalah seperti ini?

Kamu harus tau dan sadar kapan harus Antre. Biasanya kita antre di berbagai tempat fasilitas umum, missal toilet umum, check in di bandara, keluar-masuk lift. menunggu mbak-mbak cantik di teller atau customer service di grapari, di indosat gallery. Bahkan yang barbar banget nih ya saat kita mengambil makanan di sebuah pesta. Apalagi pestanya di gedung mewah. Hampir rata-rata amburadul. Tapi mau gimana lagi? kalau ga sigap, makanan yang nikmat-nikmat itu lenyap begitu saja dari pandangan mata. Lalu, gimana kalau banyak yang tidak antre? Sabar, jangan berputus asa. Tunjukin bahwa kita menghormati diri sendiri, menjunjung tinggi etiket, minimal dalam hati kecil berkata berniat untuk ikut taat aturan apalagi aturan yang tidak tertulis ini.

Berbagai macam alasan super basi menyerobot antreanaduh, sorry lagi buru-buru banget nih” “mas, Cuma sebentar kok” Setan kecil mulai membisikkan “Ah… lihat tuh, mereka aja nyerobot antrean..masa kamu enggak?” tahan diri ya, memang adu mulut kadang ga menyelesaikan masalah. Tapi, kalau kamu memang sudah ga tahan, cukup bilang baik-baik “Maaf, tolong antre. Nggak lihat? Semua orang disini antre” syukur-syukur kata-katamu nggak dianggap angin lalu. Nah, coba lirik kanan dan kiri, kalau ada petugas security bilang langsung saja ke petugasnya lalu biarkan dia menjadi penengahnya.

Tunjukkan kepedulian kamu. Tentu manusia adalah makhluk social. Ketika kamu melihat nenek atau kakek yang sudah tidak cukup kuat untuk antre, melihat ibu-ibu hamil, dan memang ada orang yang benar-benar terlihat teburu-buru dan mendesak, kenapa enggak kamu relakan satu nomor antrean untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Karena generasi Lampungnese, generasi yang punya empati contohnya ya kamu.

Belajar antre sejatinya tidak ada di dalam buku panduan manual, jarang pula diajarkan di kelas kelas. Hanya pengalaman yang dapat berbicara. Antre sudah menjadi budaya bagi beberapa negara khususnya Singapura dan Jepang. Singapura terkenal dengan sebutan the fine City, bagi siapapun yang tidak tertib akan didenda. Begitupula dengan Jepang, Kebiasaan tertib sudah menjadi kesadaran sehingga menjadi makanan sehari hari bagi negara negara maju di dunia. Tidak perlu heran kalau mereka betah sekali berjam-jam mengantre demi hal yang mereka inginkan.  Lalu? Kita kapan?

Komentar

Leave A Comment

Posts from Intan Pradina