Motor Pustaka Ngegeber California (Wawancara Pendiri Motor Pustaka, Sugeng Hariyono)

Motor Pustaka Ngegeber California (Wawancara Pendiri Motor Pustaka, Sugeng Hariyono)

img
Hari itu, sabtu 6 Agustus 2016, Tim Lampungnese menempuh perjalanan sekitar 90 menit dari Bandar Lampung menuju Kalianda-Lampung Selatan. Percayalah, kami bukan rombongan Biksu Tong yang hendak mengambil kitab suci, karena secara geografis kami pergi ke wilayah selatan, bukan ke barat.
Menjelang sore saat hari mulai meneduh, kami sampai di Masjid Agung Kalianda yang begitu sejuk saat itu. Seseorang telah menunggu kami di pelataran masjid terbesar di Kalianda tersebut. Sugeng Hariyono, pria yang menginspirasi dengan perjuangannya menumbuhkan minat baca bagi masyarakat Pematang Pasir, sebuah kelurahan di Kalianda, Lampung Selatan. Dengan jargon “Membaca itu Gaul”, Sugeng berkeliling dengan sebuah sepeda motor yang membuatnya dikenal sebagai Motor Pustaka.

Selepas kami sholat ashar, tim berbincang santai bersama Sugeng Hariyono seputar bidang pendidikan di Lampung Selatan. Dalam rangka peringatan hari kemerdekaan RI ke 71, nantinya sebanyak 17 mobil pustaka keliling akan ada di 17 kecamatan siap beroperasi di seputar kalianda (Semoga bukan sebatas wacana, ya). Selanjutnya, kami memasuki obrolan kami saat itu, yang merupakan tujuan kami datang ke Lampung Selatan yaitu mengulik sosok Sugeng Hariyono. Berikut kisah yang kini menjadikannya sebagaI Sosok di Kabupaten Lampung Selatan secara khusus dan menginspirasi pergerakan-pergerakan serupa di beberapa wilayah Indonesia.

Nyasar di Lampung

Juli 2013, Sugeng punya pandangan bahwa untuk mendapatkan pekerjaan yang layak barangkali, Sumatera  akan jauh lebih mudah ketimbang mencari kerja di pulau jawa. Berbekal uang secukupnya dari hasil penjualan motor kesayangannya, Sugeng berangkat ke Lampung dari tanah kelahirannya, Ponorogo.  

Ini adalah kali pertama ia sampai di tanah Sumatera pada Pelabuhan Bakau Heuni ketika calo berhasil menipunya sehingga uangnya hanya tersisa  empat puluh ribu. Uang yang minim membuatnya ia harus menumpang truk hingga ia sampai di Pematang Pasir, ketika mobil truk tumpangannya berhenti dan singgah untuk makan, Sugeng hanya duduk di pelataran rumah makan sambil berpikir keras untuk bertahan hidup.

Lelaki Paruh Baya itu Bernama Basuki

Masih di depan rumah makan itu, Sugeng memberanikan diri untuk bertanya dengan warga sekitar akan keinginannya mencari kerja saat itu juga. Tangan Tuhan sedang membantunya, Sugeng dipertemukan dengan Bapak Basuki, seorang pengusaha bengkel kecil. Sugeng pun melamar pekerjaan di sana dengan keahlian dia di bidang las.

Pak Basuki tidak bisa memberikan gaji kepada Sugeng, hanya makan dan tempat tinggal yang mampu Pak Basuki berikan, namun di kemudian hari, Pak Basuki nyatanya membagi keuntungannya berdua kepada Sugeng bahkan membukakakan Sugeng tambal ban di bengkelnya.

Sebagai orang asing yang berada di lingkungan yang baru, Sugeng mulai beradaptasi. Jangankan ingin  mencari hiburan, kawanpun tak punya. Kebosanan dan kegelisahan menghampirinya hingga suatu hari, ia bertanya dengan warga sekitar , “Saya ingin meminjam buku, disini ada perpustakaan, dimana ya?” jawaban yang mengejutkan keluar dari mulut warga yang berbalik bertanya “perpustakaan itu apa ,ya?”. Pernyataan dari warga tersebut menganggu pikirannya. Sebagai lulusan D2 Kepustakaan, tentu sudah merupakan tanggung jawabnya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya perpustakaan dan membaca. Hal itulah yang akhirnya membulatkan tekad Sugeng untuk memiliki perpustakaan sendiri.

Upload Foto Untuk Menarik Donatur Mendonasikan Buku

Sugeng menabung selama berbulan-bulan dari hasil rezekinya menambal ban. Setelah dirasa cukup, ia memutuskan menggunakan uang tersebut untuk membeli rangka dan mesin motor rongsokan yang kemudian menjadi “kaki”nya untuk keliling kampung. Perjuangan berat harus Sugeng lalui, pernah suatu ketika tak satupun orang yang ingin membaca bukunya. Disangka orang yang sedang menjajakan dagangan pun pernah Sugeng alami. Kelaparan dan kehabisan bensin melengkapi warna perjuangan Sugeng.

Berbulan berkeliling kampung Pematang Pasir, akhirnya Sugeng mendapat langganan pembaca yang sebagian besar anak-anak. Ia mulai menamai dirinya sebagai Motor Pustaka. Dengan membawa perpustakaan lewat motor sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat dan menumbuhkan minat baca.

Pertanyaan “Kapan ada buku baru?” pun muncul. Sugeng memutar otak bagaimana cara mendapatkan buku baru, ia pun mulai mencari relasi di facebook. Tak banyak yang menanggapi, sekali ada yang menanggapi, ia diminta mengupload foto kegiatan Motor Pustaka melalui facebooknya. Masalah baru muncul, handphone Sugeng tidak memadai karena tidak dilengkapi dengan fitur kamera, ia pun memberanikan diri meminjam kamera digital pada warga setempat. Setelah dapat pinjman kamera ia memfoto setiap kegiatannya dan menguploadnya di warnet yang leletnya minta ampun.

“Mungkin kemampuan saya terbatas, tapi semangat saya tidak terbatas,” begitu katanya

Karena semangat itulah, akhirnya aksinya mengundang simpatik sehingga donasi buku dikirim secara berkala oleh donatur-donatur di luar kota. Hingga saat ini Motor Pustaka memiliki sebanyak 3264 berbagai macam buku bacaan dan masih akan terus bertambah.

Program apa saja yang  telah dilakukan?

Menara akademi. Merupakan sebuah program dengan sasaran utamanya pemuda. Galang Belajar bagi masyarakat untuk belajar komputer gratis, mencoba mengajak masyarakat dan pemuda untuk membekali diri agar mempunyai skill di bidang komputerisasi. Harapannya, lulusan komputer ini nantinya bisa di rekrut oleh perusahaan yang menghibahkan dana CSR dari perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra Motor Pustaka.

Perpus seru. Membidik pemuda, perempuan, dan UKM. Sugeng bermitra dengan LPK memberikan kursus seperti menjahit, merias wajah, dan akan terus berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat.

Satu bulan satu pojok baca. Dengan keahliannya limbah mengolah besi tua menjadi magnet, Sugeng membuat book shelter dari Drum bekas.

Relawan membaca 15 menit.Yang pada muaranya program ini terpilih menjadi Kebijakan Nasional dalam pendidikan di Indonesia.

 

Pengalaman yang tidak terlupakan…

Ketergantungan akan buku, hanya mampu membuatnya membaca buku saja namun tidak dapat membeli satu bukupun. Berdiri selama enam jam untuk membaca buku di toko buku, alhasil Sugeng di satroni satpam dan diusir paksa dari toko buku. Hal tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidup.

Menggerus jamannya Wani Piro…

Membaca menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat Pematang Pasir. Maka, bersama Motor Pustaka Sugeng berambisi untuk sedikit demi sedikit menghapus jaman “wani piro” yang sudah mengakar di sendi-sendi negeri ini.

“Kalau mau melihat Indonesia sepuluh tahun lagi, lihatlah generasi saat ini. Jika ingin melihat Indonesia dua puluh tahun yang akan datang, lihat anak-anak sekarang. Negeri ini bukan warisan nenek moyang kita, tapi warisan anak dan cucu”

1-1≠ 0

Ilmu ikhlas diterapkan Sugeng dalam menjalani aktifitasnya keliling kampung untuk berbagi. Tiga Tahun lamanya ia membangun minat baca Kampung Pematang Pasir seorang diri. Hingga saat ini, telah banyak relawan yang menjadi perpanjangan tangannya untuk terus membangun minat baca di kampung tersebut secara berkesinambungan. Program Motor Pustakanya kini, menjadi percontohan yang di terapkan relawan bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia.“1 – 1 ≠ 0” begitu ujarnya. Ia percaya apa yang Ia lakukan, ada campur tangan Yang Maha Kuasa.

Dari Kalianda ke California

Karena dedikasinya, Sugeng akhirnya mendapat beasiswa S3 di University Of California. Ia sempat ke California untuk menandatangani beberapa berkas sembari ia meriset tentang metode pendidikan di sana. Banyak sekali hal yang ia pelajari di California, ia melihat sendiri pendidikan anak sejak usia dini di negeri Paman Sam. Di sana, anak-anak melakukan hal-hal eksperimental, pola pikir, imajinasi, dan kreatifitas benar benar dilimpahkan. Mereka belajar merancang dan menemukan terlebih dahulu sejak dini. Ketika sudah berkembang, mereka akan mudah memahami teori-teori yang di berikan. Satu hal lagi yang dipelajari saat di California, Sugeng punya cita-cita untuk mendirikan sekolah bank sampah. Sekolah yang nantinya menerima bayarannya dari sampah, hal yang begitu visioner dalam hubungannya dengan sampah yang merupakan salah satu masalah klise di Indonesia. (G.A)

Komentar

img

ppewwwee

Komentar

Hello! cialis cheap , cialis cheap , online viagra , online viagra , cialis cheap ,

img

rerertep

Komentar

Hello! cheap viagra , generic cialis , generic cialis , cialis cheap , viagra online ,

img

lazesoft data recovery

Komentar

nice posts, the good article haha!download free now lazesoft data recovery http://www.solidob.com/list/lazesoft-data-recovery.htm

img

active cooling vest

Komentar

thanks for the posts,it'right! get free now active cooling vest http://www.solidob.com/list/active-cooling-vest.htm

img

school tool cns

Komentar

good posts,the good article haha!download free now school tool cns http://www.solidob.com/list/school-tool-cns.htm

img

123movies game of thrones

Komentar

good posts,the good article haha!download free now 123movies game of thrones http://www.solidob.com/list/123movies-game-of-thrones.htm

Leave A Comment

Posts from Virdyas Eka Diputri