Boy Candra: Saya Penulis! Bukan Selebtweet!

Boy Candra: Saya Penulis! Bukan Selebtweet!

img
Menjelang akhir bulan juni usai ini, Lampungnese berhasil mewawancarai Boy Candra, penulis asal Padang , Sumatera Barat yang rumornya kini menjadi penulis muda asal sumatera yang paling produktif di Indonesia. Sembilan karyanya telah beredar di pasaran dan beberapa di antaranya masuk jajaran buku-buku best seller di beberapa toko buku konvensional maupun online. Berikut beberapa bukunya:
 

  1. Origami Hati
  2. Setelah Hujan Reda
  3. Catatan Pendek Untuk Cinta yang Panjang (Best seller/ Cetakan ke 14)
  4. Senja, Hujan dan Cerita yang Telah Usai (Best Seller/ Cetakan ke 11)
  5. Sepasang Kekasih yang Belum Pernah Bertemu
  6. Suatu Hari di 2018
  7. Surat Kecil Untuk Ayah
  8. Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua
  9. Sebuah Upaya  Melupakan
Berikut kutipan wawancara Lampungnese.com dengan pria pencetus Lentera Project itu:

Bagaimana rasanya memiliki sembilan buku yang laris di pasaran?

Apa, ya? Nggak tahu gimana cara menggambarkannya, intinya ya senang aja, sih, dapat apresiasi segitunya dari orang-orang.

Tulisanmu kebanyakan berisi ratapan galau, nggak mau buat tulisan Sains Fiction misalnya?

Hahahaha Sembarangan, itu kebetulan aja. Kebetulan yang terbit yang kayak gitu kalau sekarang. Tapi kedepan mau nulis thriller dan fantasi. Sekarang gue lagi nulis novel yang berbau kesastraan gitu, karena waktu juga ngebuat pembaca-pembaca gue, kan, mulai dewasa dan mereka butuh bacaan yang sekedar jatuh cinta dan patah hati yang ringan.

Kamu Selebtwit, kan?

Bukan! Gue penulis!

Beberapa blog yang mengangkat tentangmu mengatakan bahwa bukumu bisa terbit karena kamu seorang selebtweet, tanggapanmu?

Gini deh, gue nerbitin buku pertamakali tahun 2011 secara indie, judulnya Catatan Mahasiswa Galau, follower gue dibawah 1000-an, baru pas Origami Hati terbit , follower gue naik signifikan sampai sekarang. Lagipula, ya, sekarang, kan, twitter, nggak se-booming dulu, tapi nyatanya gue masih bisa konsisten berkarya dan buku gue masih diterima publik, jadi ya intinya semua karena karya, kalau karena follower, gue akan stagnan aja.

Bagaimana kamu bisa seproduktif ini menulis hal-hal berbau lara? Apa kamu nggak pernah bahagia?

Gue  nulis tiap hari, dan bisa dibaca di blog ini. Kebetulan karena gue masih muda dan dekat dengan kehidupan anak muda sekarang, ya nulisnya kayak gitu hahahaha..

Kemarin kamu menerbitkan buku puisi, Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua (Media kita) kenapa?

Karena gue itu orang yg mencintai puisi dan di indonesia kebanyakan puisi-puisi yang beredar itu puisi berat dan sulit dicerna pembaca-pembaca pemula. Dan yang gue lakukan adalah buat sebuah alternatif puisi-puisi ringan dan dapat dikunyah oleh para pembaca pemula.

Kenapa kebanyakan bukumu tidak bersifat sebuah cerita, buku-bukumu kebanyakan berisi tulisan-tulisan opini perasaan. Itu terlihat seperti diary pria cengeng?

Tujuannya, di Indonesia minat membacanya masih kurang, terutama pembaca muda atau pemula yang nggak suka bacaan panjang, karena itu gue nulis sebuah cerita pendek yang hanya terdiri dari empat paragraf tiap babnya agar dapat dinikmati mereka sekaligus mengakomodasi kebutuhan (perasaan) eh, bacaan mereka.

Siapa referensimu dalam menulis?

Gue nggak punya referensi khusus, baca karya siapa aja yang lagi pingin gue baca. Ya, baca. Syarat mutlak seorang penulis itu ya harus rajin membaca, apapun itu dan karya penulis manapun. Kalau terpatok sama satu penulis, nanti khawatirnya kita hanya akan jadi pengekor tulisan-tulisan penulis tersebut.

Dari sembilan bukumu, mana yang terfavorit?

Kalau favorit, sih, nggak ada. Tapi kalau yang paling berkesan, ya, buku puisi, Kuajak Kau ke Hutan dan Tersesat Berdua. Karena buku itu proses pembuatannya paling lama, tiga tahun, sampai akhirnya terbit.

Ceritakan sedikit tentang buku barumu, Sebuah Usaha Melupakan dan dimana buku itu bisa di dapatkan?

Itu catatan-catatan perasaan yang sekaligus sebagai “terapi” untuk melupakan seseorang yang pernah berarti di hidup seseorang lainnya. Bisa di dapat di seluruh toko buku di Indonesia.

Megan Fox atau Pevita Pearce?

Pevita Pearce.

Kapan ke Lampung lagi?

Nanti, deh, pasti disempatkan kesana untuk promo buku baru.

Pesan untuk penulis-penulis baru?

Fokus dan tekun saja menggali potensi diri sendiri, rajin belajar! Buatlah karya yang segar meski ide-idenya yang sudah ada, tapi tulislah dengan gaya kepenulisan yang baru. Open minded dan terima sebuah kritik untuk membangun dirimu sendiri. Penulis bukan seniman yang lahir secara instan, tapi diterpa sama proses. Terus menulis, membaca, bersabar dan gali hal-hal baru.

Nah, begitulah petikan wawancara dengan Boy Candra. Pria yang melanjutkan pendidikan S2-nya di Universitas Negeri Padang itu saya kenal secara personal, ia pekerja keras dan konsisten dalam bidang yang ia tekuni sekarang, yaitu menulis. Pagi, siang, sore, malam selalu ia sempatkan untuk menulis walau itu hanya di sosial media atau manuskrip-manuskrip kecil di notebook antiknya. Klise, untuk mencapai impian, kamu hanya perlu empat hal. Passion, kerja keras, berdoa, dan konsisten. Yuk! Mulai buat planing project mewujudkan mimpimu!

(Exclusive Interview with Galih Aditya ) wink

 

Komentar

Leave A Comment

Posts from Virdyas Eka Diputri