Apakah Kamu Seorang Volunteer Sejati? Temukan Disini!

Apakah Kamu Seorang Volunteer Sejati? Temukan Disini!

img
Belakangan di Bandar Lampung banyak komunitas-komunitas yang mulai fokus pada pendidikan anak usia pra sekolah sampai usia sekolah dengan mendirikan taman baca atau rumah belajar yang sekaligus difungsikan sebagai sekolah alternatif untuk mereka yang tidak bersekolah formal maupun putus sekolah.
Menjadi volunteer pada bidang tersebut bukanlah perkara mudah, dimana para volunteer muda yang terkadang kebanyakan tidak memiliki basic mengajar atau sekolah keguruan harus terjun menghadapi anak-anak “yang tak biasa” di sekolah alternatif yang mereka kelola. Hanya satu tujuan mereka, demi mencerdaskan generasi penerus Lampung yang tersisih dari pendidikan formal di sekolah dan luput dari perhatian pemerintah.

Mental, kesabaran dan kasih sayang disatukan pada diri mereka masing-masing demi dapat berbagi apapun yang mereka bisa kepada anak-anak didiknya. Pengorbanan waktu dan materi pun mereka lakukan demi murid-muridnya. Menjadi volunteer memang membutuhkan sebuah komitmen yang tumbuh dari dasar jiwa masing-masing, dimana yang benar-benar tulus ialah ia yang bertahan untuk terus membangun sekolah alternatif walaupun tak sepeser rupiah pun ia terima dari jerih payahnya. Tipe seperti inilah tipikal volunteer sejati yang berkomitmen tinggi tentang apa yang ia perbuat. Terjun ke lapangan dan bahkan mengorbankan waktunya demi kemajuan sekolah alternatifnya. Tipikal pejuang dan calon orang tua yang baik bagi anak-anaknya kelak. Yeay!

Selain hal di atas, ada beberapa point yang menjadi indikasi bahwa seseorang tersebut memang volunteer sejati:

  • Memanfaatkan waktu luang untuk terjun ke lapangan dan mengajar. Baik sebagai guru utama maupun kakak pendamping bagi anak-anak didiknya.
  • Menyempatkan diri datang ke Taman Baca, Rumah Belajar atau desa tempat anak-anak kurang beruntung tersebut belajar, walau seharian kerja nguras selat sunda pakai gayung.
  • Lentur dan dekat dengan orang tua anak-anak didiknya dan memberi tahu tentang perkembangan anak-anak yang diajarnya kepada orang tua anak tersebut. (total eys!!!)
  • Tanggap dengan keadaan sekitar dan masalah personal yang dihadapi anak-anak. Menjadi konseling sekaligus sahabat bagi sang anak.
Empat point di atas adalah hal-hal yang harus kamu lakukan jika kamu ingin bergabung dengan pergerakan relawan yang berbasis pada dunia pendidikan. Volunteer adalah dimana kita menjadi sekumpulan orang yang bersama-sama saling bahu membahu dan melebur menjadi satu demi mencapai sebuah tujuan. Tak peduli dari mana latar belakang pendidikan kita, keluarga kita, atau dari komunitas mana kita datang. Semuanya tentang menjadi satu tubuh, hati dan pikiran. Komitmen dan kerja keras menjadi input dan output dalam pergerakan sukarela macam ini. Demi kemajuan, demi pendidikan, dan demi mereka agar tidak terintimidasi kelak.

            Lantas, belakangan ini pula saya mendapat beberapa pertanyaan tentang “Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi seorang volunteer?” yang saya rangkum dibawah ini:

Q         : Kak, saya nggak punya basic mengajar pelajaran formal.Tapi saya pingin gabung jadi volunteer, saya harus gimana?

A         : Kamu pikir saya punya? Wong kuliah saya aja nggak kelar. Jadi gini, menjadi mentor atau pengajar bukan berarti kamu harus bisa pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, IPS, IPA, PKN atau lainnya, tapi kemauan kamu untuk berbagi apapun yang ada di kepalamu yang pantas dibagi buat anak-anak. Misalnya kamu bisa mendongeng, ya kamu bacakan mereka dongeng, misalnya kamu hobinya jalan-jalan ke luar angkasa, ya, kamu ceritakan pengalamanmu nyasar di Uranus dan lain halnya. Ilmu itu nggak terbatas pada pelajaran formal yang dipelajari di sekolah, lho.

Q         : Saya bukan tipe orang yang bisa memberi materi di kelas, tapi saya bisanya langsung mengajari anak-anak praktik, saya kebetulan penari!

A         : So what’s the problem? Pelajaran kreatifitas macam itu memang yang paling diperlukan anak-anak sekarang. Live skill, begitu saya menyebutnya, dari situ nanti anak-anak akan ketahuan apa passion mereka. Mungkin nanti tinggal di atur waktunya saja.

Q         : Kak, saya nggak bisa jadi volunteer tetap yang rutin mengajar, tapi saya akan support melalui pendanaan saja atau bentuk sumbangan lain, gimana?

A         : Wah, itu membantu sekali, karena kelas yang dipakai adik-adik pun masih sangat sangatlah sederhana dan perlu didandanin biar gak keos ketika hujan dan banjir datang (nah lho! Kenapa nih?? Main kesini yuk, biar tau. By the way, kamu tetep bisa woro-woro ke teman-teman mu lain yang ingin berbagi pengetahuan ke adik-adiknya).

Q:        : Kak, saya cuma main-main aja kesini, ga niat jadi volunteer (Sambil menenteng tas branded dengan mobil kinclongnya di parkiran).

A         : Selamat datang di Rumah Belajar, jadi nona, saya yang akan jadi guide anda. Lihat di sana ada anak-anak yang putus sekolah lagi belajar dan yang di sana belum bisa membaca dan yang di sana punya masalah dengan kepercayaan dirinya, oh iya nona, bisa dilihat juga persediaan buku kita yang terbatas dan alat tulis kita yang belum memadai, dan itu, yang mukanya lelah itu adalah volunteer kami yang membangun Rumah belajar ini walau dari bambu dan beratap asbes bekas.

Itulah sekilas pertanyaan yang sering saya terima terkait menjadi volunteer. Menjadi volunteer tidak serumit yang dibayangkan, hanya niat beritahu ke orang lain yang juga “perlu tau”, komitmen dan konsistensi. Sederhananya ajari yang kamu tau, beri yang kamu mampu, lebih baik lagi kamu bisa respon dengan lingkungan sekitar rumahmu yang membutuhkan bantuan. Memang, lelah akan menjadi konseuensinya, tapi apa kamu keberatan bila lelahmu demi sebuah kebaikan? Ayo anak muda! Ini waktunya untuk saling peduli tanpa berharap balas budi.

Komentar

Leave A Comment

Posts from Virdyas Eka Diputri